NEWS

SAVE THE OCEAN 2024

By TFI Student Committee (TFISC) • January 31, 2024

“Save Our Sea: Let’s Dive into Action”

Laut, sebuah keindahan biru yang memukau di bumi, kini menjadi saksi bisu dari kehancuran yang terus menerus oleh ulah manusia. Seperti permadani yang terhampar, panorama indah dengan warna-warni yang memukau kini terancam oleh perilaku manusia yang tidak terkendali. Penggunaan alat tangkap seperti pukat harimau dan jala besar tidak hanya mengancam kelangsungan hidup berbagai spesies, termasuk lumba-lumba, tetapi juga menciptakan gambaran serakah manusia yang menangkap, memotong, memakan, dan memanfaatkan ikan tanpa batas. 

Namun, kerusakan laut tidak terbatas pada tindakan tersebut saja. Sampah, terutama dari jala ikan, menjadi penyebab konkret penurunan kualitas laut, mencapai angka 48% dari total sampah yang mencemari lautan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh biota laut, tetapi juga mengancam manusia, sebagai makhluk yang tak terpisahkan dari ekosistem laut. Fakta lainnya yang mencengangkan datang dari Kompas, di mana pengamatan hampir 12.000 kumpulan data mengungkapkan bahwa pada tahun 2023, lebih dari 171 triliun keping plastik menyumbang pada krisis polusi laut yang semakin meresahkan. 

Tak hanya sampah plastik, limbah kimia juga meracuni kehidupan laut. Deterjen, sebagai contoh, meskipun dianggap tidak berbahaya, menjadi sumber pencemaran potensial karena sering dibuang begitu saja ke perairan. Ini menambah daftar ancaman terhadap ekosistem laut yang sudah terpukul oleh perubahan iklim, dengan 50-80% oksigen di bumi berasal dari tumbuhan laut dan fitoplankton.

Maka dari itu, perlindungan laut bukan lagi hanya panggilan moral, tetapi sebuah kewajiban untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan melindungi masa depan kita. Perubahan tindakan harus dilakukan, baik dalam pengelolaan sampah maupun penggunaan bahan kimia, agar surga biru ini tetap mempesona untuk generasi-generasi yang akan datang.

Pada tanggal 29 Januari 2024 mengingat dengan kerusakan ekosistem dan biota laut yang diprediksi akan terus meningkat, TFISC regional Alam Sutera mengadakan program kerja tahunannya yaitu Save The Ocean dengan mengangkat tema “Save Our Sea: Let’s Dive into Action”. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran bagi anak muda dan masyarakat sekitar untuk menjaga ekosistem laut yang kualitasnya terus menurun dengan cara membersihkan pantai dari limbah berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit dan merusak keindahan pemandangan.

Kegiatan membersihkan pantai ini dilakukan di Pantai Tanjung Kait, Banten dan diawali dengan keberangkatan 45 volunteers beserta 12 panitia dan 1 PIC. Sesampainya di Pantai Tanjung Kait para peserta membentuk barisan rapi sesuai dengan kelompok masing-masing dan mendengarkan sambutan dari project manager sekaligus perwakilan Desa Tanjung Anom, kemudian diikuti oleh briefing singkat dari panitia kepada para volunteers sehingga mereka dapat menjalankan tugas mereka sebagai volunteers dengan baik. Sambil mendengarkan briefing, para volunteers diberikan satu karung untuk satu kelompok dengan target pengumpulan sampah 8 kilogram. Kegiatan ini pun berjalan lancar dengan antusiasme para volunteers yang mampu mengumpulkan sampah mencapai belasan kilogram dan ditutup dengan foto bersama untuk mengakhiri acara bersih-bersih pantai.

Tidak berhenti sampai di sana saja, Save The Ocean 2024 juga menjangkau anak-anak dengan memberikan sebuah workshop pembuatan ecoenzym yang bertujuan untuk memberikan edukasi tentang cara-cara mengolah limbah organik dengan metode ramah lingkungan dan dapat menghasilkan suatu produk yang berguna. Kegiatan ini dilaksanakan di Panti Asuhan Yatim Piatu dan Dhuafa Maktabul Aitam, di hari yang sama, dengan total anak sebanyak 15 orang didampingi oleh 10 orang volunteers yang telah terpilih. Kegiatan juga diawali oleh pembukaan oleh Project Manager dan pengurus dari Panti Asuhan Maktabul Aitam yang sangat hangat, diikuti dengan games untuk menyemarakkan acara.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan penjelasan materi-materi oleh volunteers tentang kerusakan laut dan bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut sekaligus penjelasan pembuatan ecoenzym sehingga anak-anak akan lebih memahami fungsi utama dan pembuatan ecoenzym itu sendiri. Pembuatan ecoenzym dimulai dari mencampurkan gula merah dengan air dan diaduk hingga merata. Setelah tercampur, masukkan sampah organik (sisa buah/sayur) kedalam larutan gula merah dan aduk hingga merata. Setelah semuanya tercampur, botol kemudian ditutup dan didiamkan hingga 3 bulan. Selama sebulan kedepan botol ecoenzym perlu dibuka dan ditutup untuk mengeluarkan gas yang dihasilkan baru didiamkan kembali hingga bulan ketiga. Bila sudah jadi, cairan ecoenzym akan berubah lebih kecoklatan dan baunya asam seperti cuka. Dalam penjelasan pembuatan ecoenzym tersebut anak-anak sangat antusias mendengarkan penjelasan dari para volunteers dan turut serta membantu pembuatan ecoenzym. Akhirnya program kerja ini ditutup dengan foto bersama dan kata penutup dari Project Manager serta pihak Panti Asuhan Maktabul Aitam. Seluruh panitia, volunteers, dan PIC pun kembali ke kampus Binus Alam Sutera. 

References

  • Green Info. (2021, April 6). Ancaman yang Dihadapi Ekosistem Laut – Green Info. Https://Greeneration.org/. https://greeneration.org/publication/green-info/ancaman-yang-dihadapi-ekosistem-laut/
  • Imam Taufik. (2006). PENCEMARAN DETERJEN DALAM PERAIRAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP ORGANISME AIR. Media Akuakultur, 1(1), 25–32. https://doi.org/10.15578/ma.1.1.2006.25-32
  • Novena, M., & Sumartiningtyas, H. K. N. (2023, April 1). Berapa Banyak Sampah Plastik yang Ada di Lautan? KOMPAS.com. https://www.kompas.com/sains/read/2023/04/01/103000323/berapa-banyak-sampah-plastik-yang-ada-di-lautan-#google_vignette
  • Nurhadi. (2022, June 15). Fitoplankton, Mikroorganisme Penghasil Oksigen Terbesar di Bumi. Tempo. https://tekno.tempo.co/read/1601940/fitoplankton-mikroorganisme-penghasil-oksigen-terbesar-di-bumi