ARTICLE

“Aku Tidak Merasa Cukup akan Diri Sendiri” Analisis Hubungan antara Self-Esteem, Incongruence, Self Image dan Ideal Self oleh Carl Rogers

By Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMPSIKO) • October 30, 2023

Halo teman-teman Psikopedia! Pernah nggak sih teman-teman merasa tidak cukup dan tidak puas akan diri sendiri? Entah dalam konteks pencapaian, hubungan, atau kondisi saat ini. Berbagai macam tuntutan dari lingkungan dan pengalaman kegagalan yang dialami di masa lalu terkadang dapat membuat kita rendah diri; tidak percaya diri. Tidak jarang hal ini dapat menutup pandangan akan potensi sesungguhnya yang ada pada diri sendiri, tidak percaya bahwa sebetulnya kita mampu untuk melakukan banyak hal di dunia luar.

 “Aku tidak merasa cukup akan diri sendiri.”

Mungkin dari teman-teman Psikopedia pernah merasakan hal ini. Dalam konteks pencapaian, seringkali kita membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain. Contohnya adalah dengan melihat postingan orang lain di sosial media yang sudah terlihat sukses tetapi diri seakan berada di tempat yang sama; tidak ada yang berubah. Dalam konteks hubungan, seringkali kita membandingkan baik hubungan pertemanan, hubungan dengan keluarga, maupun hubungan romantis yang seakan tidak seindah orang lain. Hal ini seakan membuat seolah seluruh hal yang kita miliki saat ini merupakan kesalahan dari diri sendiri dan tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mencapai seluruh standar diri, standar hubungan, dan standar-standar lainnya yang dibuat oleh masyarakat luas. 

Definisi Self-Esteem

Self-Esteem atau harga diri merupakan keseluruhan perasaan seorang individu akan nilai atau keberhargaan dirinya. Dalam kata lain, Self-Esteem digambarkan oleh seberapa besar seorang individu menyukai diri sendiri. Dapat disimpulkan bahwa perasaan tidak cukup akan diri sendiri menunjukkan Self-Esteem yang rendah. Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan di Indonesia, terdapat 8 dari 10 remaja di Indonesia yang memiliki Self-Esteem yang rendah. Hal ini disebabkan dengan adanya tekanan tinggi dari lingkungan yang membuat tuntutan atau standar kondisi ideal. Jika hal ini tidak dapat ditangani dengan baik, hal ini dapat berdampak buruk pada kesehatan mental, kehidupan sosial, pendidikan dan kinerja, dan kesehatan fisik seorang individu. Dalam taraf yang lebih tinggi, rendahnya Self-Esteem dapat menimbulkan gangguan kecemasan yang bisa mengarah ke depresi. Terdapat berbagai macam faktor yang bisa menjadi penyebab seorang individu memiliki Self-Esteem yang rendah. Pada kesempatan kali ini, rendahnya Self-Esteem akan dijelaskan dengan sebuah teori psikologis yang digagaskan oleh Carl Rogers yaitu Person-Centered Theory. Terdapat tiga istilah penting lainnya yang akan digunakan yaitu The Self-Concept, Ideal Self, dan Incongruence. 

Definisi The Self-Concept:

The Self-Concept atau konsep diri merupakan suatu gambaran yang dimiliki oleh seorang individu terkait dirinya sendiri saat ini. The Self-Concept mencakup seluruh aspek terhadap keberadaan seorang individu dan pengalaman individu tersebut. Contohnya adalah bagaimana seorang individu menggambarkan sifat atau kepribadian diri, bagaimana seorang individu memandang interaksinya dengan dunia luar, dan bagaimana seorang individu menganggap nilai – nilai yang penting dalam diri. 

Definisi Ideal Self:

Ideal Self atau diri ideal merupakan suatu gambaran yang dimiliki oleh seorang individu terkait harapan sebagai seseorang yang diinginkannya. Ideal Self mencakup atribut, karakteristik, atau kualitas – kualitas yang ingin dimiliki di masa depan. Dalam kata lain, Ideal Self merupakan penjumlahan dari seluruh hal yang seorang individu percaya perlu dimiliki oleh dirinya serta penjumlahan dari seluruh hal yang seorang individu percaya orang lain inginkan terhadap dirinya. Ideal Self dipengaruhi oleh hal-hal yang diajarkan oleh orang tua, apa yang mereka kagumi dari orang lain, dan apa yang masyarakat luas tekankan.

Definisi Incongruence:

Incongruence merupakan istilah yang menggambarkan kesenjangan yang besar antara The Self-Concept dan Ideal Self yang dimiliki oleh seseorang. Dalam kata lain, terdapat perbedaan antara bagaimana seorang individu memandang dirinya sendiri di masa kini (The Self-Concept) dengan bagaimana individu tersebut mengharapkan dirinya sendiri di masa depan (Ideal Self). Incongruence yang terjadi pada seorang individu dapat memberikan dampak yang negatif terhadap Self-Esteem. Adapula dampak dari Incongruence terhadap kesehatan mental lainnya adalah timbulnya konflik diri dan kecemasan yang berlebihan. 

Lalu, bagaimana cara untuk mengatasi Incongruence yang ada pada diri?

Dalam ilmu psikologi, terdapat istilah yang menggambarkan kondisi yang berlawanan dengan Incongruence. Istilah ini disebut sebagai Congruence yaitu kesesuaian antara The Self-Concept dan Ideal Self yang dimiliki oleh seseorang. Dalam kata lain, Congruence merupakan kondisi tidak terdapatnya kesenjangan yang signifikan antara konsep diri yang dimiliki dengan diri ideal yang diinginkan oleh seorang individu. 

Adapula langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi Incongruence dan mengatasi rendahnya Self-Esteem pada diri sendiri:

  1. Memiliki kesadaran dan menerima seluruh kondisi diri saat ini
  2. Meninjau kembali The Self-Concept dan Ideal Self yang ada pada diri
  3. Membangun The Self-Concept dan Ideal Self  yang sejalan dengan diri sendiri dan dapat dicapai dalam jangka waktu yang panjang
  4. Mencari tahu apa yang membuat Self-Esteem menurun.
  5. Mengetahui bahwa kita memiliki kemampuan dan keputusan untuk membangun pikiran dan keyakinan yang positif akan diri sendiri
  6. Meminta bantuan orang yang dipercaya
  7. Meminta bantuan layanan kesehatan mental profesional seperti psikolog atau psikiater

Mempertimbangkan banyaknya fenomena rendahnya Self-Esteem yang beredar pada masyarakat luas, konsep diri dan diri ideal seakan dibentuk oleh tuntutan lingkungan dan standar orang lain. Padahal, kita dapat memahami bahwa seluruh individu manusia merupakan individu yang unik, memiliki konsep diri dan diri ideal yang berbeda satu sama lain. Kita memiliki kapasitas untuk memilih standar diri kita sendiri, tidak terpengaruhi oleh standar orang lain. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menerima diri akan seluruh kekurangan dan kelebihan diri; yakin bahwa diri dapat mencapai tujuan dengan mencintai diri di masa lalu, masa kini, dan masa depan. 

“I feel happier just for being myself and letting others be themselves.”

-Carl Rogers

 

Referensi:

Cherry, K. (2022). What is self-concept and how does it form?. Verywell Mind. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2023 melalui laman https://www.verywellmind.com/what-is-self-concept-2795865 

Courtney E. Ackerman, MA. (2023). What is self-esteem? A psychologist explains. PositivePsychology.com. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2023 melalui laman https://positivepsychology.com/self-esteem/ 

Development, PT. N. S. (2023). Ketahui Dampak Negatif dari Self Esteem yang Rendah. Ketahui Dampak negatif Dari Self esteem Yang Rendah. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2023 melalui laman https://nsd.co.id/posts/ketahui-dampak-negatif-dari-self-esteem-yang-rendah.html 

Fernando, R., & Heberle, M. (2022). Ideal Self vs. real self: Definition & difference – study.com. Study.com. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2023 melalui laman https://study.com/academy/lesson/ideal-self-vs-real-self-definition-lesson-quiz.html 

Nurdiyanto, W. (2020). Rendahnya Self Esteem Pengaruhi kesehatan mental. Rendahnya Self Esteem Pengaruhi Kesehatan Mental – TIMES Indonesia. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2023 melalui laman https://timesindonesia.co.id/kopi-times/246055/rendahnya-self-esteem-pengaruhi-kesehatan-mental 

Puji, A. (2022). Pentingnya Self Esteem (harga diri) dan tips Menjaganya Agar “Tetap Baik.” Hello Sehat. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2023 melalui laman  https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/self-esteem/ 

Rahmah, L. A. (2022). Sudah Sehatkah self esteem-mu? – direktorat jenderal kekayaan negara. KPKNL Samarinda. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2023 melalui laman https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-samarinda/baca-artikel/15227/Sudah-Sehatkah-Self-Esteem-mu.html 

Shafira, N. (2021). Inkongruensi, Salah Satu Sumber Gangguan Psikologis. KOMPASIANA. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2023 melalui laman https://www.kompasiana.com/litashafira/6094963b8ede4876f66193b2/inkongruensi-salah-satu-sumber-gangguan-psikologis