ARTICLE

Operasi Fortitude: Ketika Sekutu Menggunakan Hoax Demi Mengelabui Hitler

By Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMHI) • October 31, 2022
Foto anggota tentara Inggris yang sedang mengangkat balon berbentuk Tank Sherman demi mengelabui pesawat mata-mata Jerman. Photo from Imperial War Museum.

Fortitude, kurang terkenal tetapi merupakan kunci dari keberhasilan overlord yang terkenal.

6 Juni 1944, tanggal yang bersejarah bagi Eropa. Di tanggal tersebut, terjadi sebuah invasi yang dilakukan oleh pasukan sekutu yang terdiri dari Amerika, Inggris dan Kanada yang merupakan sebuah awal dari pembebasan Eropa Barat dari tangan Hitler dan partai Nazi-nya. Invasi ini juga merupakan awal dari kekalahan Nazi Jerman di perang dunia kedua. Invasi tersebut dikenal sebagai operasi Overlord. Orang lebih mengenalnya sebagai D-day. Operasi Overlord merupakan pertempuran di perang dunia kedua yang sangat terkenal, bahkan banyak film yang berlatar saat D-day itu terjadi. Contohnya, film buatan Steven Spielberg bernama Saving Private Ryan yang menceritakan seorang pasukan Ranger Amerika saat D-day yang ditugaskan mencari prajurit Ryan untuk dipulangkan dikarenakan seluruh saudaranya gugur dalam perang dunia kedua. Contoh lainnya adalah berupa novel karya Cornelius ryan bernama The Longest Day yang diadaptasi menjadi film pada 1962 yang menceritakan kronologi lengkap D-day dari latar belakang hingga saat operasi dimulai. Dari semua ketenaran soal D-day, orang lupa bahwa ada sebuah operasi yang menyebabkan D-day menjadi sukses dan operasi itu bernama Fortitude.

 

Teori

Dalam membahas Operasi Fortitude, teori yang akan digunakan untuk menganalisa pembahasan ini adalah teori realisme. Secara harfiah, realisme memandang bahwa konsep power merupakan pusat atau hal utama yang harus dimiliki oleh suatu negara ketika ingin mencapai suatu tujuan. Jika kita melihat ke dalam operasi fortitude, hanya negara-negara yang memiliki power besar yang dapat turut ikut campur dalam operasi ini, hal ini dikarenakan negara-negara super power dinilai dapat menjaga negaranya. Misalkan Inggris dan Amerika Serikat, dimana kedua negara ini turut berpartisipasi dalam tindakan menghancurkan kediktatoran Hitler. Bahkan kedua negara ini ikut menyuplai berbagai power yang dia punya khususnya dalam segi SDM agar kelancaran operasi ini dapat terlaksana. Selain itu, teori realisme juga dapat terlihat pada tindakan pembebasan Eropa Barat, dimana negara-negara yang terlibat menggunakan power mereka secara besar-besaran untuk membantu Eropa Barat keluar dari kependudukan Jerman. 

 

Latar Belakang, Tujuan dan Pembagian operasi.

Pada November 1943 terjadi sebuah konferensi di Tehran, Iran yang dihadiri oleh AS, Inggris dan Uni Soviet. Isi dari konferensi tersebut adalah pihak sekutu barat harus membuka front baru di Eropa Barat pada 1944. Tujuannya untuk membantu Soviet yang sedang menggempur Nazi Jerman di front timur. Dari hasil konferensi itu, dirumuskanlah operasi Overlord. Tetapi menurut, jenderal Amerika, Eisenhower, panzer/tank Jerman sangatlah banyak dan mengancam pasukan sekutu. Menurut penulis Stephen E. Ambrose dalam bukunya yang berjudul ,”D-day: June 6, 1944. The Climactic battle of World War Two, dibutuhkan sebuah pengalih perhatian agar panzer-panzer Jerman tersebut tidak berada di tempat pendaratan sekutu nantinya. Maka lahirlah operasi fortitude. Tujuan dari operasi Fortitude ini ada tiga yaitu:

  1. Meyakinkan markas besar militer Jerman (OKW) dan Hitler bahwa sekutu akan mendarat di Norwegia.
  2. Meyakinkan markas besar militer Jerman (OKW) dan Hitler bahwa sekutu akan mendarat di Pantai Pas De Calais.
  3. Meyakinkan markas besar militer Jerman (OKW) dan Hitler bahwa pendaratan di Normandia hanyalah pengalih perhatian.

Operasi Fortitude ini dibagi dua, yaitu Operation Fortitude North dan Operation Fortitude South. Operasi Fortitude North bertujuan untuk memenuhi tujuan ke-1 sedangkan operasi Fortitude South bertujuan untuk memenuhi tujuan ke-2 dan ke-3.

 

Fortitude North

Pemberlakuan operasi Fortitude-North ditujukan untuk meyakinkan Fuhrer dan OKW Jerman bahwa penyerangan yang dilakukan oleh sekutu barat merupakan tindakan untuk menyerang dan membebaskan Norwegia dari pendudukan Jerman. Tindakan operasi Fortitude-North ini diawali dengan meyakinkan Swedia Selatan untuk bergabung dalam perang, dimana hal ini dilakukan agar dapat mengamankan pelabuhan dan lapangan terbang di Swedia Selatan ( mendapatkan hak atas pangkalan yang dibutuhkan Sekutu Swedia) sehingga mereka dapat meluncurkan serangan berikutnya untuk pembebasan Denmark. (Donovan, Michael. 2002)

Setelah pembebasan Denmark dari kependudukan Jerman, sekutu memulai penyerangan terhadap Berlin, rencana ini dapat dikatakan sebagai kebalikan dari Weserubung (Penyerangan yang dilakukan oleh Jerman kepada Denmark dan Norwegia) dimana sekutu membentuk sebuah strategi untuk memanfaatkan dua situs dari invasi di Norwegia. Pendaratan di daerah Selatan (Stavanger) yang dilakukan oleh sekutu Inggris / Amerika Serikat menjadi sebuah upaya para pejuang berbasis darat untuk merebut lapangan udara dan mengamankan jalur komunikasi ( kereta api dan jalan raya) di Swedia Utara. (Donovan, Michael. 2002)

Agar proses operasi perebutan tersebut berhasil, kekuatan invasi besar-besaran harus diciptakan terlebih dahulu. Pada masa ini, letak lokasi geografis Skotlandia akan mempersulit Jerman untuk mengintai kekuatan invasi Norwegia melalui pengintaian udara. Oleh karena itu, sekutu sangat bergantung pada penggunaan mata-mata khusus dan operasi pencegatan. Mata-mata khusus dalam hal ini bukan mata-mata sekutu melainkan mata-mata Jerman yang telah ditangkap diawal dan diyakinkan untuk bekerja sama sebagai agen ganda (Identitas mata-mata jerman diambil alih oleh intelijen Inggris). (Donovan, Michael. 2002)

 

Fortitude South

Dalam operasi Fortitude south, Amerika menciptakan sebuah tentara gadungan bernama First US Army Group atau disingkat FUSAG. Tentara gadungan ini diletakan di daerah Dover, Inggris yang berdasarkan peta, letak geografis Dover menghadap pantai Pas De Calais, Perancis. Tujuannya agar Jerman mengira bahwa ada konsentrasi pasukan besar-besaran di daerah Dover yang akan menyerang Pas De Calais sehingga Jerman dapat menganggap bahwa sekutu akan menyerbu pantai Pas De Calais, bukan Normandia. Menurut buku ,”D-day: June 6, 1944. The Climactic battle of World War Two“,karya Stephen E Ambrose, aktivitas dari tentara gadungan FUSAG ini adalah menyebarkan siaran radio palsu agar disadap Jerman, menciptakan landasan udara palsu demi menipu pesawat mata-mata Jerman agar Jerman mengira bahwa ada pangkalan udara sungguhan yang akan dipakai untuk menyerbu Calais dan memasang balon berbentuk tank dan pesawat agar pesawat mata-mata Jerman mengira bahwa ada suatu pangkalan militer di Dover yang akan dipakai oleh sekutu untuk menyerbu Calais. (Ambrose, Stephen, e. 1994)

Komandan dari tentara gadungan ini adalah Jenderal George S Patton yang terkenal karena memimpin operasi pendaratan di Afrika Utara 1942 dan operasi pendaratan Italia 1943. Berdasarkan buku “D-day: June 6, 1944. The Climactic battle of World War Two”, penunjukan jenderal Patton ini dikarenakan Jerman sangat mengenal Patton sehingga diharapkan  Jerman benar benar termakan tipu daya sekutu tentang konsentrasi pasukan palsu di daerah Dover, Inggris. Tujuan dari penunjukan Patton juga untuk memberi kesan bahwa FUSAG ini adalah tentara sungguhan, padahal bukan. (Ambrose, Stephen, e. 1994)

FUSAG ini terdiri dari tentara ke- 3 AS yang merupakan satuan asli tapi masih ada di Amerika Serikat, tentara ke- 4 Inggris yang merupakan satuan palsu yang anggotanya merupakan rekrutan dari teater London dan tentara ke- 1 Kanada yang merupakan satuan asli yang berdomisili di Inggris. Penulis menyebut FUSAG sebagai tentara gadungan dikarenakan FUSAG memang bukan satuan tentara yang akan dipakai dalam perang sehingga mereka lebih pantas disebut sebagai gadungan (Ambrose, Stephen, e. 1994).

 

Bukti Keberhasilan Operasi Fortitude

Secara alami, penipuan dari operasi Fortitude-North ini benar-benar sukses dimana sekutu dapat mengikat 27 divisi Jerman untuk pertahanan Norwegia dan Denmark. Tidak hanya itu, secara tidak langsung Hitler juga membantu memperkuat Norwegia. Hal ini dapat terlihat bahwa pada 1944 di Norwegia terdapat 90.000 personel angkatan laut, 60.000 personel angkatan udara dan 12.000 pasukan militer Jerman. Selain itu, LCS dan Swedia juga mempermainkan sektor ekonomi dimana pada saat Swedia memasok Jerman dengan bijih besi, bantalan bola dan peralatan mesin, semua item yang menuntut sekutu ini dikenakan embargo. Sekutu kemudian dengan sengaja memainkan  pasar saham Stockholm untuk menaikkan harga sekuritas Norwegia untuk lebih menunjukkan spekulasi investor tentang invasi dan pembebasan Norwegia yang akan segera terjadi. Namun, semua itu hanyalah ilusi belaka. (Hesketh, Roger Fleetwood. 1949)

Operasi fortitude South juga merupakan sebuah keberhasilan. Berdasarkan buku ,”D-day: June 6, 1944. The Climactic battle of World War Two“, Jerman memilih memusatkan kekuatan di pantai Pas De Calais dibandingkan tempat lainnya di Perancis. Lanjut Stephen, Jerman menaruh banyak pasukan disana yang didukung oleh divisi Panzer/tank. Jerman juga banyak meletakan ranjau laut di pantai Pas De Calais dibandingkan pantai lainnya di Perancis. Terakhir Jerman juga banyak meletakan benteng pertahanan di Calais dibandingkan pantai lainnya di Perancis. Meskipun sekutu telah mendarat di Normandia, Hitler tetap menganggap bahwa sekutu akan mendarat di Pas De Calais dan pendaratan di Normandia menurut dia hanyalah pengalih perhatian. Ini menjadi bukti dari keberhasilan Fortitude South dalam menipu Hitler. (Ambrose, Stephen, e. 1994)

 

Kesimpulan

Operasi Fortitude terbukti berhasil membuat sekutu menjalankan invasi Normandia atau operasi Overlord. Tanpa operasi Overlord mungkin Hitler tidak akan segera kalah. Operasi Overlord tidak akan berhasil tanpa operasi Fortitude. Jadi, tanpa operasi Fortitude maka Hitler tidak akan segera kalah dan Eropa tidak akan segera dibebaskan oleh sekutu yang hanya akan menambah penderitaan bagi masyarakat eropa. 

Author: Dimas Rasyid Aliansyah dan Rafael Geraldine (IRB News – Peace & Conflict)

Editor: Sarah Putri Haryadi, Hafsyah Azzahra, Jennifer Clara Aprilia & Viranty Yulia Putri

 

Citation

Ambrose, Stephen, e. D-day:June 6, 1944. The Climactic Battle of World War II. Robert Anthony inc, 1994. 

Ojong, P.K. Perang Eropa:Jilid 3. Kompas, 2005. 

Donovan, Michael. Strategic Deception:Operation Fortitude. US Army War College. PDF. 2002

Hesketh, Roger Fleetwood. Fortitude:A History of Strategic Deception in Northwestern Europe April 1943 until May 1945. On His Majesty’s secret service. PDF. 1949.